Martin Garrix dan Alan Walker adalah dua orang DJ yang kini telah sangat populer di seluruh dunia. Padahal, Garrix dan Walker baru berusia kurang dari 25 tahun.
Karena itu, kumparan ingin membandingkan keduanya dari berbagai aspek, mulai dari karier, prestasi, kehidupan pribadi, hingga bisnis. Ternyata, cara keduanya memperoleh popularitas di seluruh dunia cukup berbeda di beberapa aspek.

1. Awal karier
Sejak kecil, Garrix sudah mencintai musik dan mahir memainkan gitar di usia 8 tahun. Pada 2004, Garrix mulai tertarik untuk menjadi DJ setelah melihat Tiesto tampil di Upacara Pembukaan Olimpiade Musim Panas di Athena, Yunani.
Pada 2013, Garrix lulus dari Herman Brood Academy di Utrecht, Belanda. Ia kemudian berkolaborasi dengan Julian Jordan memproduksi lagu EDM sendiri yang berjudul ‘BFAM’, serta ‘Just Some Loops’ berkolaborasi dengan TV Noise.

Di tahun yang sama, Garrix mulai menunjukkan kemampuannya sebagai DJ muda, dan menandatangani kontrak dengan Spinnin’ Records. Lagu ‘Animals’ yang didistribusikan Spinnin Records kemudian meledak dipasaran, dan Martin Garrix yang baru berusia 17 tahun kala itu, menjadi DJ Eropa termuda yang masuk dalam daftar 100 DJ terbaik dunia.
Berbeda dari Garrix, Alan Walker bukan seorang jenius musik sejak kecil. Walker memang mencintai dunia digital dan mempelajari programming dan desain grafis, namun ia mempelajari produksi musik EDM melalui tutorial Youtube.

Pada 2014, Walker mulai memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya sebagai DJ melalui lagu ‘Fade’ di Soundcloud dan YouTube. Setelah merilisnya melalui NoCopyrightSounds, video musik ‘Fade’ di YouTube mulai tenar dan disaksikan hingga lebih dari 300 juta penonton.
Sementara lewat Spotify, single ‘Fade’ didengarkan lebih dari 79 juta orang, sedangkan di Soundcloud ‘Fade’ didengarkan lebih dari 30 juta orang.

Walker kemudian dikontrak oleh MER Musik dan single ‘Fade’ di re-master menjadi ‘Faded’ dengan tambahan vokal dari Iselin Solheim. ‘Faded’ sukses memuncaki tangga lagu di Austria, Jerman, Swiss dan Swedia, juga masuk sebagai top 10 di Spotify Global Chart.
Berkat kesuksesannya, Walker pun dikenal oleh banyak DJ senior. Lagu ‘Faded’ pun di-remix secara resmi oleh banyak DJ, termasuk Tiesto, Dash Berlin, dan Hardwell.

2. Prestasi
Garrix saat ini berusia 22 tahun dan sudah berhasil bertengger di posisi 22 dari 100 DJ terbaik dunia. Ia mengalahkan rekor milik Hardwell yang baru mampu masuk 20 besar di usia 25 tahun.
Garrix juga telah memenangkan 19 piala dari 28 nominasi diberbagai ajang penganugerahan musik bergengsi, termasuk Dance Music Awards 2013 sebagai ‘DJ of the Year’.
Lalu penghargaan lain yang diterimanya adalah Youtube Music Awards 2015 dalam kategori ’50 Artist to Watch’, dan MTV Millenial Awards 2016 pada kategori ‘Beat Guru’.
Garrix juga beberapa kali berkolaborasi dengan penyanyi papan atas, seperti Ed Sheeran di lagu ‘Rewind Repeat It’, Bebe Rexha di lagu ‘In The Name of Love’, dan Dua Lipa di lagu ‘Scared to be Lonely’.

Baru berkarier sejak 2014, koleksi penghargaan Walker sudah hampir menyamai Garrix. Ia telah berhasil memenangkan total 14 penghargaan bergengsi, termasuk MTV Europe Music Awarda 2016, Cannes Lions International Festival of Creativity 2016, dan International Dance Music Awards 2018.
Alan Walker kini telah menjadi musisi paling populer di negara asal ibunya, Norwegia, dengan total 3,4 miliar penonton hingga saat ini. Selain itu, gaya berpakaian Walker yang kerap mengenakan masker dan hoodie serba hitam, menjadi tren populer di kalangan gamers muda.

Walker juga kini melebarkan sayap ke pasar Asia dan berkolaborasi dengan beberapa artis K-Pop, Seungri ‘Big Bang’ dan Lay ‘Exo’. Karena itu pula Walker akhirnya populer dan kerap dipercaya untuk tampil di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

3. Kehidupan pribadi
Sejak Agustus lalu, Garrix menjadi resident DJ di Hakkasan Nightclub, Omnia Nightclub, dan Wet Republic Day Club yang berada di Las Vegas, Amerika Serikat. Sebelumnya, Garrix juga telah menjadi resident DJ di salah satu superclub Ibiza yang bernama Ushuaïa.
Kini, Forbes Magazine pun telah menobatkannya sebagai DJ termahal di dunia dengan total kekayaan sebesar Rp 304 miliar.

Meski kaya raya, Garrix adalah pribadi yang baik dan kerap ikut dalam kegiatan sosial. Pada 2016, Garrix bermain di acara organisasi non-profit ‘F*ck Cancer’ yang bertujuan untuk mendeteksi, mengobati, serta menyemangati para penderita kanker di seluruh dunia.
Pada 2017, Garrix menjadi salah satu ‘sahabat internasional’ yang ikut serta dalam acara amal SOS Children Village di Afrika yang bertujuan, untuk memberi keluarga layak bagi anak yatim piatu yang berkekurangan.

Sementara Walker dalam kesehariannya, merupakan seorang DJ yang aktif menjadi gamers. Karena telah mengerti programming sejak kecil, ia pun mahir dalam memainkan berbagai permainan konsol.
Walker kini tak melanjutkan lagi pendidikan SMA-nya dan fokus untuk terus berkarier di industri musik. Meski kelihatannya aneh, pria berusia 21 tahun itu nyatanya membuktikan diri sukses di musik digital.

4. Bisnis
Pada 2015, Garrix berselisih dan mengundurkan diri dari label musik Spinnin Records, karena masalah hak cipta dari lagu ‘Animals’. Garrix bahkan menuntut pihak manajemen Spinnin Records secara hukum karena merasa dirugikan secara finansial.
Karena masalah tersebut, Garrix pun tak punya label musik dan mulai berpikir untuk membuat satu label musik sendiri. Benar saja, Garrix akhirnya mendirikan Stmpd Records pada 2016.
Baru dua tahun berdiri, Stmpd Records sudah mendapat sokongan dari Sony Music dalam hal distribusi. Beberapa DJ dan produser, termasuk AREA 21, CMC$, dan Conro, bergabung sebagai artis dari Stmpd Records.
Sukses sebagai DJ dan pemilik label rekaman, tak heran rasanya jika Garrix mampu menjadi DJ muda terkaya di dunia. Kini, ia berdomisili di Amerika Serikat, dan tidak menutup kemungkinan bisnis Garrix di industri musik nantinya kian berkembang pesat.

Di sisi lain, Walker memang belum memiliki bisnis sendiri, namun ia kini menjadi salah satu brand ambassador dari salah satu produk smartphone.
Selain itu, Walker memang dikenal sebagai DJ penuh konsep yang mahir dalam membuat berbagai konten YouTube tematik. Mengenakan kostum serba hitam juga masker yang menutup separuh wajahnya, Walker seolah berusaha menghidupkan dunia digital penuh anonim.
Cara Alan Walker menggambarkan musiknya di dunia digital, ternyata mampu mendulang popularitas. Oleh karena itu, Walker pun sukses mendulang pundi-pundi uang melalui YouTube dan platform digital lain, seperti Shazam, Spotify, dan Soundcloud.

(kumparan team)